Saya masih ingat petuah bapak Bapak Bibit (Wakil KPK) bahwa dalam kehidupan manusia tidak ada kesamaan dalam pemerataan materi. Petuah ini yang harusnya setiap orang pahami sebagai pondasi kontrol agar bisa qona’ah.
Banyak kemudian orang segera dan tergesa memperoleh kekayaan materi dengan cara instant. Tidak sabar dan tidak membuka logika yang sehat. Sehingga banyak orang tergiur (”ngiler”=jawa) dengan penawaran investasi yang menjanjikan bagi hasil tinggi. Tak jarang orang kemudian mentaklid (ngikut) orang yang selama ini dijadikan figur yang khusuk dalam kesehariaannya. Ketika ia kelihatan cerah rezeki materinya, orang berbondong-bondong datang kepadanya seraya menanyakan bisnis apa yang selama ini dijalani. Alhasil orang tersebut menjalankan bisnis bekerjasama dengan pihak lain. Dengan menyetor beberapa, beberapa puluh (..atus) juta rupiah, ia tinggal menunggu setiap sore atau setiap minggu hasil dari bagi usaha. Bak jamur di semaian sekam yang rimbun. orang semakin terkagum dengan orang ini dengan penampilan sekian hari, bulan kian berubah mentereng. Siapalah yang tidak kepingin. Cari kerja sekarang susah. Kenapa yang sulit, mungkin yang mudah begini bisa dilakukan.
Masya Allah. Demikianlah sebagai ilustrasi. Manusia ditakdirkan dalam keaadaan keluh kesah sehingga akan selalu merasa kurang. Kondisi yang panas di lingkungan sekitar baik alamnya, sosial tempat tinggal maupun tempat kerja janganlah sampai mambakar hati kita yang sejuk. Setiap orang kadang lemah dan kita sadar tidak akan jadi sempurna. Kadang manusia adakalanya salah dalam memutuskan sesuatu maka kewajiban kita untuk saling menasehati. Janganlah kita sama nekat mengikutinya.
Masih ingat kita minggu lalu di sebuah harian surat kabar rakyat yogya diberitakan puluhan investor mengadu ke Polda karena mereka mengaku ketipu puluhan milyar rupiah. Salah satu model orang cari penghidupan di jaman edan (gila) ini dengan mengaku punya suatu perdagangan yang membutuhkan modal banyak dan jumlah yang besar. Sehingga ia perlu menghimpun banyak investor sebagai rekanan. Bagi hasil usaha dibom dengan presentasi yang tinggi. Pembayaran yang rutin dan disiplin di bulan atau tahun-tahun awal semakin orang tambah percaya “ini BISNIS sungguhan”. Namun dikemudian hari tidak kuat lagi untuk membayarnya. Bisnis apa?. Semu”
Dalam Agama Islam disebut Syubhat (samar) Sementara yang halal itu jelas yang haram itu jelas. Syubhat tersebut ada di antara keduanya. Halal TIDAK, haram pun TIDAK. Allah SWT telah memberi pilihan agar yang tidak jelas tersebut harus dihindari. Demikian itulah yang menyelamatkan dirinya.
Maka dalam hidup ini kita perlu ingat pepatah ” JAMANE WIS EDAN, NEK ORA EDAN ORA KEDUMAN. SING BEJO; SING ELING LAN WASPADA” maksudnya Jaman ini sudah gila (rusak) barang siapa yang tidak mau nggila (nekad) maka tidak dapat bagian. Yang akan selamat adalah orang yang mau ingat (sama Tuhan) dan waspada (hati-hati) .